Varian Lambda Virus Covid 19

Virus Corona varian delta (B.1.617.2) sebelumnya diduga menjadi penyebab terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia dan berbagai belahan dunia. Saat ini varian delta (B.1.617.2) masih menjadi varian paling dominan dan menjadi fokus peneliti. Namun, belum reda kasus COVID-19 varian delta, varian lambda (C.37) mulai meningkat di Amerika Selatan dan baru-baru ini ditemukan dibeberapa negara eropa seperti Spanyol, Jerman, Prancis, Italy dan Inggris.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan, varian lambda memiliki potensi untuk meningkatkan penularan dan diduga telah meningkatkan resistensi terhadap antibodi. Selain itu, beberapa peneliti menyampaikan bahwa varian ini dianggap lebih tahan terhadap vaksin.

Disebabkan banyaknya muncul Varian COVID-19, WHO membuat klasifikasi dan membagi varian menjadi 2 yaitu Variant of Concern (VOC) dan Variant of Interest (VOI) :

  • Variant of Concern (VOC) adalah varian yang telah terbukti meningkatkan penularan (transmissibility), meningkatkan keparahan penyakit (misal meningkatkan kasus rawat inap dan kematian), menyebabkan penurunan signifikan pada proses netralisasi oleh antibodi yang telah terbentuk oleh infeksi sebelumnya atau vaksin, mengurangi efektivitas dari pengobatan atau vaksin, atau menyebabkan kesalahan diagnosa. Varian yang saat ini diklasifikasikan dalam kelompok ini oleh WHO adalah Varian Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan Delta (B.1.617.2).

  • Varian of Interest (VOI) merupakan varian dengan penanda (marker) genetik spesifik yang telah dikaitkan dengan perubahan pada binding reseptor, mengurangi netralisasi oleh antibody yang telah terbentuk pada infeksi sebelumnya atau vaksin, mengurangi efikasi dari suatu pengobatan, memiliki dampak diagnostic potensial, atau diprediksi dapat meningkatkan penularan atau keparahan penyakit. Varian yang saat ini diklasifikasikan dalam kelompok ini oleh WHO adalah Varian Eta (B.1.525), Iota (B.1.526), Kappa (B.1.617.1) dan Lambda (C.37).

Varian Lambda (C.37) pertama kali ditemukan di Peru pada Agustus 2020. Varian ini kemudian menjadi varian dominan di Amerika Selatan. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh gisaid.org, saat ini varian ini sudah menyebar di 32 negara di seluruh dunia.

Dr. Stuart Ray dari Rumah Sakit Johns Hopkins, mengatakan bahwa lambda adalah semacam sepupu dari varian Alpha (C.1.1.7) – salah satu varian yang paling awal menjadi perhatian. Varian lambda membawa sejumlah mutasi dengan dampak yang dicurigai, seperti potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi terhadap antibodi penetralisir. Tetapi dikatakan sejauh mana dampak mutasi tersebut belum dipahami dengan baik dan akan membutuhkan studi lebih lanjut. Meskipun belum ada data yang jelas, bukti sejauh ini tidak menunjukkan varian lambda memiliki keunggulan besar dibandingkan varian delta, kata Ray.

Saat ini tidak ada yang menunjukkan bahwa gejala infeksi Varian Lambda (C.37) berbeda dengan jenis varian corona lainya. Gejala Utama Covid-19 adalah:

  • Suhu tubuh meningkat (Demam) – Ditandai dengan panas saat menyentuhkan dahi dengan punggung telapak tangan.
  • Batuk baru yang terus menerus – Ditandai dengan batuk selama lebih dari satu jam, atau tiga atau lebih episode dalam 24 jam (Jika sebelumnya sering batuk, dapat ditandai dengan batuk yang dengan kondisi yang lebih buruk).
  • Kehilangan atau perubahan pada indra pengecapan atau penciuman – Ditandai dengan berkurangnya atau hilangnya penciuman atau rasa pada sesuatu yang biasanya dapat dirasakan

Efektivitas vaksin terhadap varian lambda

Dalam makalah pra-cetak yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, para peneliti menemukan bahwa vaksin mRNA efektif melawan varian Lambda. Baik vaksin virus corona Pfizer dan Moderna yang digunakan di Inggris adalah mRNA jabs, artinya vaksin tersebut mengandung materi genetik yang memerintahkan sel-sel tubuh untuk memproduksi lonjakan virus corona, yang kemudian memicu respons imun. Hasil makalah ini menunjukkan bahwa vaksin yang digunakan saat ini akan tetap protektif terhadap varian Lambda. Para peneliti telah menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi efektivitas vaksin.

Kesimpulan

Berdasarkan informasi diatas dapat disimpulkan:

  1. Varian Lambda saat ini sudah menyebar ke 32 negara termasuk negara eropa
  2. Gejala Varian Lambda sama dengan gejala corona pada umumnya
  3. Bukti sejauh ini menunjukkan varian lambda tidak memiliki keunggulan besar dibandingkan dengan Varian Delta
  4. Vaksin yang paling efektif digunakan sejauh ini untuk melindungi diri dari varian lambda adalah vaksin berbasis mRNA

Daftar Referensi

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5672799/belum-usai-varian-delta-ancaman-baru-datang-dari-varian-lambda

https://www.gisaid.org/hcov19-variants/

https://www.nhs.uk/conditions/coronavirus-covid-19/symptoms/main-symptoms/#symptoms

https://www.npr.org/sections/coronavirus-live-updates/2021/07/22/1019293200/the-lambda-variant-coronavirus-what-you-should-know

https://www.sciencefocus.com/news/lambda-variant/

https://www.who.int/en/activities/tracking-SARS-CoV-2-variants/

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Farmasi

HMPF merupakan organisasi mahasiswa pascasarjana dalam lingkup Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung yang dibentuk berdasarkan SK lembaga kemahasiswaan ITB dengan Dekan Sekolah Pascasarjana ITB No. 566/l.1.B01.1/PP/2016 dan SK Dekan Sekolah Farmasi ITB 636A/SK/I1.C03/KP/2016.

Berita Terkait