Deksametason vs Covid-19

covid-19 sumber: https://mmc.tirto.id/image/otf/500×0/2020/02/10/ilustrasi-virus-istock–2_ratio-16×9.jpg

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) CoV-2 atau Covid-19

Emily S. Gurley pengajar di Universitas Johns Hopkins memaparkan penjelasan tentang corona virus. Beliau menyatakan Coronaviruses atau yang selanjutnya disingkat CoVs adalah kelompok virus yang sudah ada dan pernah menginfeksi manusia. Corona berasal dari kata crown yang artinya mahkota. Ini dikarenakan virus tersebut di bawah mikroskop terlihat dikelilingi selubung yang berbentuk seolah-olah mahkota. Virus ini pada awalnya menginfeksi sebagian besar mamalia dan unggas. Dan lebih lanjut juga diketahui sebagai penyebab infeksi saluran respirasi pada manusia.  

SARS-COV-2 atau lebih dikenal Covid-19 yang saat ini menjadi pandemi hampir di seluruh dunia, diyakini turunan atau jenis baru dari Coronaviruses ini. Yang secara alaminya berada dalam kelelawar. Virus ini adalah virus corona ketiga yang menginfeksi manusia. Pada tahun 2002 silam corona virus juga telah menginfeksi manusia yang dikenal dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) CoV muncul pertama kali di Guangdong, China. Selanjutnya Middle Eastern Respiratory Syndrome (MERS) CoV yang muncul di Timur tengah pada tahun 2012. Dan terakhir  Severe Acute Respiratory Syndrome-CoV-2 (SARS-COV-2) atau Covid-19 muncul di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019. 

Selanjutnya Emily S. Gurley juga mengungkapkan, tidak semua pasien yang terinfeksi virus ini menimbulkan tanda dan gejala atau yang disebut asimtomatik. Ia menyatakan tanda dan gejala bisa bervariasi pada setiap individu, beberapa pasien yang terinfeksi tidak memperlihatkan gejala/asimtomatik, atau beberapa menimbulkan gejala ringan dari penyakit serta beberapa lainnya memiliki gejala yang serius bahkan mengarah kepada kematian bila tidak ditindaklanjuti dengan tepat.

Tanda dan gejala yang umum pada pasien Covid-19 berupa demam dengan temperatur 100,4 °F (38°C), kelelahan, perasaan dingin selama demam, nyeri otot, batuk, kehilangan indra perasa dan pencium, sulit bernafas, sakit kepala serta sakit tenggorokan. Namun gejala ini juga umum pada penyakit saluran pernafasan lainnya. Oleh karena itu cukup sulit menentukan apakah pasien terinfeksi Covid atau tidak.  Namun, sepertiga dari pasien positif virus ini melaporkan terjadinya kehilangan kemampuan indra perasa atau indra penciuman.

Kortikosteroid Deksametason untuk covid-19

Pasien dengan kondisi COVID-19 berat dapat mengalami inflamasi sistemik yang akan menyebabkan kerusakan paru dan disfungsi berbagai organ di dalam tubuh.

Deksametason merupakan salah satu obat golongan kortikosteroid yang memiliki efek antiinflamasi, sehingga perburukan kerusakan organ dapat dicegah atau bahkan ditangani. Sebelumnya, manfaat deksametason telah dilaporkan pada kondisi infeksi paru seperti pneumonia akibat Pneumonia jirovecii yang disertai hipoksia. Sayangnya, pada kasus infeksi MERS maupun SARS, penggunaan kortikosteroid justru menghambat eliminasi virus dari tubuh. Bahkan pada kasus pneumonia parah yang disebabkan oleh influenza, kortikosteroid menghasilkan luaran klinis yang buruk, disertai dengan terjadinya infeksi bakteri sekunder dan kematian. 

Deksametason sumber: https://media-origin.kompas.tv/library/image/content_article/article_img/20200619034626.jpg

Untuk kondisi COVID-19, pada studi RECOVERY menunjukkan bahwa laju kematian lebih rendah pada pasien yang mendapatkan deksametason dibandingkan terapi standar. Namun, hasil yang menguntungkan ini hanya terlihat pada pasien dengan ventilator atau yang membutuhkan oksigen tambahan, sementara pada pasien yang tidak memerlukan oksigen tambahan, manfaat tersebut tidak terlihat.

Penggunaan deksametason jangka panjang (lebih dari 2 minggu) dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti glaukoma, hipertensi, efek psikologis (gangguan mood, ingatan, kebingungan), kenaikan bobot badan, serta osteoporosis. Deksametason juga telah diketahui dapat memperparah penyakit diabetes melitus karena memiliki efek hiperglikemia.  Kekambuhan infeksi laten seperti hepatitis B dan tuberkulosis juga dapat terjadi pada penggunaan deksametason, karena kortikosteroid memiliki efek penurunan kekebalan tubuh. Di dalam tubuh, deksametason juga dapat menurunkan kadar beberapa obat lainnya. Oleh karena itu, keputusan untuk menggunakan deksametason pada kondisi COVID-19 terutama dengan penyakit penyerta perlu dipertimbangkan dengan bijak.

Berdasarkan berbagai pertimbangan, National institute of Health (NIH) merekomendasikan penggunaan deksametason hanya untuk pasien COVID-19 yang memerlukan bantuan oksigen (kondisi berat), dengan dosis 6 mg per hari selama 6-10 hari. Sementara WHO, masih mengumpulkan bukti klinis yang akan digunakan untuk menentukan posisi deksametason maupun kortikosteroid lainnya pada tatalaksana COVID-19.

Begitu pula yang dipaparkan oleh Neng Fisheri dosen di Institut Teknologi Bandung pada platform instagram farmashare @farmasiitb. Beliau menyatakan deksametason digunakan sebagai obat tambahan untuk meredakan reaksi hiperinflamasi yang terjadi pada pasien bukan sebagai penanganan virus secara langsung. 

Maka disimpulkan kortikosteroid, khususnya deksametason, dapat digunakan sebagai obat tambahan pada pasien positif covid yang dirawat di rumah sakit dengan tingkat sedang hingga berat. Namun tidak untuk pasien dengan tingkat penyakit yang rendah atau ringan. */ oleh Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia HMPF 2020

Glosarium

Inflamasi : atau biasa disebut peradangan merupakan mekanisme tubuh dalam melindungi diri dari bakteri/virus/zat penyebab penyakit

Hipoksia: kondisi kekurangan oksigan pada tubuh sehingga tidak sampai pada sel untuk kebutuhan pembentukan energi/metabolisme

Luaran klinis: merupakan perubahan terhada kondisi penyakit maupun kualitas hidup pasien yang disebabkan oleh perawatan yang diterima pasien

Laju mortalitas: pengukuran jumlah kematian dibandingkan dengan jumlah populasi keseluruhan dalam satu waktu tertentu

Referensi:

https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-dexamethasone-and-covid-19

Farmashare Deksametason & Covid-19: https://www.instagram.com/tv/CDF8EW-goeu/?utm_source=ig_web_copy_link

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Farmasi

HMPF merupakan organisasi mahasiswa pascasarjana dalam lingkup Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung yang dibentuk berdasarkan SK lembaga kemahasiswaan ITB dengan Dekan Sekolah Pascasarjana ITB No. 566/l.1.B01.1/PP/2016 dan SK Dekan Sekolah Farmasi ITB 636A/SK/I1.C03/KP/2016.

Berita Terkait