Virus Corona Subvarian (AY.4.2) dan Omicron (B.1.1.529)

Virus Corona Subvarian (AY.4.2) dan Omicron (B.1.1.529)

Selama 2 tahun terakhir, Virus Corona terus bermutasi dan menyebar di seluruh dunia. Varian yang paling menular diantara varian yang ada adalah Delta, yang mendapat julukan “variant of corncern” dari CDC. Sekarang varian Delta sudah memiliki turunan mutasi, salah satunya subvarian AY.4.2.

Disebut juga sebagai “Delta Plus”, subvarian AY.4.2 yang sempat merebak pada agustus hingga september tahun 2021 dan menyebabkan infeksi sebanyak 6% dari total kasus konfirmasi positif di Inggris. Mutasi terjadi pada spike protein A222V dan Y145H yang menyebabkan virus corona memiliki kemampuan yang lebih besar untuk lolos dari sistem imun dengan membuatnya lebih tidak dikenalioleh antibodi.

Pada grafik terlihat bahwa pada bulan Maret-Oktober, sequence virus delta yang terdeteksi didominasi oleh subvarian AY.4. Penelitian menunjukkan bahwa subvarian ini 10% lebih menular dari subvarian Delta lainnya. Subvarian AY.4.2 lebih mudah menular dikarenakan masa inkubasi subvarian ini lebih singkat. Walaupun lebih menular, varian ini tidak lebih mematikan dari varian yang sudah ada.

Vaksin yang ada sekarang diketahui cukup efektif dalam menghadapi subvarian AY.4.2. Penyuntikan booster (dosis ke-3) vaksin corona dapat melindungi dengan lebih baik. Namun cara yang lebih baik lagi adalah dengan meningkatkan angka vaksinasi yaitu menyuntikkan vaksin pada individu yang belum pernah menerima vaksin sebelumnya.

Subvarian AY.4.2 sudah menyebar ke 33 negara di dunia. Walupun sampai saat ini belum ditemukan subvarin ini di Indonesia, Pemerintah terus mewaspadai varian baru ini. Tetap terapkan prokes ketat dan jangan lupa vaksin bagi yang belum.

Varian Omicron (B.1.1.529)

Kasus covid di Indonesia sempat mereda pada November dan Desember 2021 dengan jumlah pasien terkonfirmasi covid dibawah 1000 kasus. Ditengah redanya jumlah pasien covid, justru muncul kabar dari Afrika Selatan bahwa muncul varian baru yaitu, omicron atau B.1.1.529.

Varian omicron (B.1.1.529) pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada 24 November 2021. Di Indonesia sendiri omicron pertama kali terdeteksi pada WNI yang tiba dari Nigeria pada tanggal 27 November 2021. Saat ini varian omicron diklasifikasikan dalam Variant of Concern oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Varian omicron menyebar lebih cepat dibandingkan dengan varian virus lainnya karena memiliki mutasi yang lebih banyak dibandingkan dengan varian lainnya. Mutasi yang terjadi banyak ditemukan pada protein spike yang berhubungan dengan cara virus menyebar.

Varian Delta menyebar 7 kali lebih cepat dibandingkan dengan varian virus pertama yang muncul sedangkan Omicron menyebar 5 kali lebih cepat dibandingkan varian Delta. Disisi lain, Omicron memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah dibandingkan dengan varian Delta. Meskipun begitu dengan transmisi yang tinggi, jumlah kasus akan meningkat dan dapat menyebabkan fasilitas Kesehatan publik melebihi kapasitas. Kelebihan kapasitas fasilitas kesehatan dapat mengarah kepada keterlambatan penanganan pasien yang dapat menyebabkan kasus kematian.

Deteksi COVID-19 sebelumnya dapat menggunakan Metode Whole Genome Sequencing (WGS). Namun saat ini, untuk memastikan pasien terpapar oleh Varian Omicron diperlukan Tes PCR-SGTF (Polymerase Chain Reaction S Gene Target Failure).

Peneliti masih menelusuri pengaruh varian omicron terhadap efektivitas vaksin. Namun, dari hasil investigasi sejauh ini, ditemukan adanya penurunan efektivitas vaksin Covid-19. Untuk virus yang pertama kali muncul di wuhan, vaksin COVID-19 memiliki efektivitas hingga 95%, namun terhadap varian Omicron ini, efektivitas vaksin COVID-19 mengalami penurunan dan hanya 50%, peneliti masih terus melakukan penelusuran terkait hal ini.

Untuk mencegah penyebaran COVID-19, masyarakat perlu terus melakukan kampanye 3M yaitu, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan pakai sabun. Serta mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan kerumunan.

References

UK Health Security Agency. SARS-CoV-2 variants of concern and variants under investigation in England, October 2021.

https://www1.racgp.org.au/newsgp/clinical/what-is-the-ay-4-2-covid-variant-under-investigati

https://www.healthline.com/health-news/the-delta-plus-ay-4-2-coronavirus-variant-is-rising-in-the-u-k#Booster-shots-and-AY.4.2

https://setkab.go.id/pemerintah-waspadai-varian-baru-corona-ay-4-2-dari-inggris/

https://www.unair.ac.id/site/article/read/4628/four-characteristics-of-omicron-variant-different-from-other-variants.html

https://health.ucdavis.edu/coronavirus/covid-19-information/omicron-variant

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Farmasi

HMPF merupakan organisasi mahasiswa pascasarjana dalam lingkup Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung yang dibentuk berdasarkan SK lembaga kemahasiswaan ITB dengan Dekan Sekolah Pascasarjana ITB No. 566/l.1.B01.1/PP/2016 dan SK Dekan Sekolah Farmasi ITB 636A/SK/I1.C03/KP/2016.

Berita Terkait